SUMBER
& KARAKTERISTIK LIMBAH PLTU
Menurut Sugiyono (2003), dari keseluruhan pembangkit
listrik yang ada di Indonesia, batu bara memiliki peranan yang cukup tinggi
yakni sebesar 34,5% disusul gas bumi sebesar 30,4%. Berikutnya adalah tenaga
diesel sebesar 21%, tenaga air 10,9% dan panas bumi sebesar 3,2%.
Emisi-emisi yang
dihasilkan dapat berupa Abu, SOx, NOx, COx, CxHx, dan Asap.
1. Abu
Abu merupakan bahan anorganik sisa pembakaran batubara dan terbentuk dari
perubahan bahan mineral karena proses pembakaran. Pada pembakaran batubara
dalam pembangkit tenaga listrik terbentuk dua jenis abu yakni abu terbang (fly
ash) dan abu dasar (bottom ash). Partikel abu yang terbawa gas buang disebut
abu terbang, sedangkan abu yang tertinggal dan dikeluarkan dari bawah tungku
disebut abu dasar. Sebagian abu dasar berupa lelehan abu disebut terak (slag).
PLTU
berbahan bakar batubara biasanya menghasilkan limbah padat dalam bentuk abu.
Jumlah abu batubara yang dihasilkan per hari dapat mencapai 500 – 1000 ton.
Sebagian besar abu terbang dan abu dasar dikumpulkan dalam pembuangan abu (ash
disposal). Hingga saat ini abu batubara tersebut banyak dimanfaatkan untuk
keperluan industri semen dan beton, bahan pengisi untuk bahan tambang dan bahan
galian serta berbagai pemanfaatan lainnya.
2. Oksida Belerang
Unsur belerang terdapat pada batubara dengan kadar bervariasi dari rendah (jauh
di bawah 1%) sampai lebih dari 4%. Unsur ini terdapat dalam batubara dalam 3
bentuk yakni belerang organik, pirit dan sulfat. Dari ketiga bentuk belerang
tersebut, belerang organik dan belerang pirit merupakan sumber utama emisi
oksida belerang. Dalam pembakaran batubara, semua belerang organik dan sebagian
belerang pirit menjadi SO2. Oksida belerang ini selanjutnya dapat
teroksidasi menjadi SO3. Sedangkan belerang sulfat disamping stabil
dan sulit menjadi oksida belerang, kadar relatifnya sangat rendah dibanding
belerang bentuk lainnya.
Oksida-oksida belerang yang terbawa gas buang dapat bereaksi dengan lelehan abu
yang menempel dinding tungku maupun pipa boiler sehingga menyebabkan korosi.
Sebagian SO2 yang diemisikan ke udara dapat teroksidasi menjadi SO3
yang apabila bereaksi dengan uap air menjadi kabut asam sehingga menimbulkan
turunnya hujan asam.
3. Oksida Nitrogen
Nitrogen umumnya terikat dengan material organik dalam batubara dan kadarnya
kurang dari 2%. Pada pembakaran, nitrogen akan dirubah menjadi oksida nitrogen
dan disebut NOx. Selain nitrogen dari batubara, NOx juga dapat terbentuk dari
nitrogen dalam udara pembakaran.
Zat nitrogen oksida ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi
di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat amat halus yang
menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel-partikel nitrat ini pula, jika
bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air di awan akan membentuk
asam.
4. Karbon Monoksida
Gas karbon monoksida (CO) terbentuk pada pembakaran tidak sempurna. gas ini
dihasilkan dari proses oksidasi bahan bakar yang tidak sempurna. Gas ini
bersifat tidak berwarna, tidak berbau, tidak menyebabkan iritasi. Reaksi yang
tidak sempurna antara karbon dan oksigen adalah sebagai berikut:
C + ½ O2 → CO
Selain menghasilkan energi lebih rendah, gas CO merupakan polutan yang dapat
mencemari lingkungan terutama untuk para pekerja di lingkungan tertutup. Untuk
pembakaran batubara dalam pembangkit listik yang modern, pembentukan CO
biasanya kecil sehingga tidak perlu dikhawatirkan karena jumlah oksigen (udara)
yang dipasok biasanya sudah dihitung dan dipasok berlebih.
5.
Karbon
Dioksida
Dalam pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, tujuan utamanya adalah
semaksimal mungkin mengkonversikan unsur utama dalam batubara yakni C (karbon)
menjadi CO2 sehingga dihasilkan energi yang tinggi. Dikarenakan batubara mengandung
kadar karbon paling tinggi dibanding bahan bakar fosil lainnya seperti minyak
dan gas, maka pembakaran batubara dianggap merupakan sumber emisi CO2 terbesar.
6. Asap dan Gas Hidrokarbon
Asap dan gas hidrokarbon terbentuk pada pembakaran yang sangat tidak sempurna.
Asap terutama terdiri dari partikel-partikel karbon yang tidak terbakar.
Sedangkan gas-gas hidrokarbon adalah senyawa-senyawa karbon dan hidrogen hasil
pemecahan bahan organik batubara yang belum mengalami oksida oksigen lebih
lanjut. Seperti karbon monoksida, pembentukan asap dan gas-gas hidrokarbon
menyebabkan rendahnya efisiensi pembakaran bahkan jauh lebih rendah dari yang
diakibatkan oleh pembentukan karbon monoksida.